Air Terjun Niagara


Dari : d3tkj@yahoogroups.com

suatu kali diadakan sebuah lomba spektakuler, yakni menyebrangi air jetjun niagara di amerika serikat. para peserta diharuskan menyebrangi air terjun tersebut dengan menggunakan seutas tali baja dan sebatang tiang pengaman.
sejak lomba dimulai beberapa peserta sudah sudah banyak yang mencoba dan gagal. akan tetapi ada seorang peserta dengan pengalaman dan kepiawaiaannya mulai menapaki tali baja tersebut dengan mantap. ketika telah sampai ditengah perjalanan, semua penonton semakin takjub, mengingat peserta yagn lain udah berguguran sebelum sampai setengah perjalanan.
perlahan tapi pasti peserta itu memasuki 3/4 bagian perjalannan. sejenak dia berhenti akibat goyangan yang merusak keseimbangan tubuhnya. tampaknya angin yang kuat mempengaruhi usahanya menyelesaikan penyebrangannya di air terjun itu. pada saat-saat genting tersebut penonton seolah-olah tersedot dala emosi yang menakutkan.tidak hanya yang terkesima dengan petualangan yang mendebarkan ini bahkan beberapa penonton sudah mengambil inisiatif untuk menang taruhan.
akhirnya dengan segala daa dan upaya serta konsentrasi yang tinggi, peserta ini berhasil menyeberangi air terjun niagara dengan disertai tepuk tangan dan penganugerahan mendali kehormatan sebagai peserta yang pemberani dan berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik.
tidak lama kemudian pria ini didaulat untuk kembali lagi menyeberangi ke tempat asal guna membuktikan bahwa keberhasilan ini bukan karean faktor keberuntungan belaka. tantangan ini pun di terima si lelaki ini dengan memberikan sebuah pertanyaan.
” oke, saya akan kembali lagi menyeberangi tempat asal, namun pertanyaan saya adalah apakah saudara-saudara percaya saya bisa melakukannya lagi” ungkapnya.
serentak semua penonton menjawabnya “percaya”.
sekali lagi pria tersebut bertanya pada penonton “kalau saudara percaya saya mampu melakukan hal ini siapakan diantara saudara yang bersedia bersama-sama dengan saya menyeberangi air terjun ini?”
semua penonton terdiam dan seolah-olah tidak bergerak sama sekali.
“ayo adakah adakah diantara saudara yang berani?” tantang lelaki itu “jangan khawatir, saya akan menggendong saudara dan kita bersama-sama menyelesaikan pekerjaan ini!” jelasnya lagi.
kembali penonton tidak ada yang menjawab. dalam keheningan tiba-tiba ada seorang anak kecil menyeruak ke permukaan massa dan mengatakan bersedia. akhirnya perjalanan pun dimulai dan tampaknya memakan waktu lebih lama dari perjalanan pertama kali tadi. melewati setengah perjalanan penonton bersorak, dengan keyakinan akan tiba diseberang dengan selamat.
“sunggu pertunjukan yang luar biasa” ujar seorang reporter telivisi yang meliput kejadian ini. akhirnya tibalah si lelaki dan anak kecil yang di pundakknya dengan selamat yagn disertai dengan sorak sorai penonton. sekarang konsentrasi penonton bukan lagi pada si lelaki tapi pada anak kecil ini, diapun diajak naik ke atas panggung dan diwawancarai oleh panitia lomba.
“boy, mengapa anda mau mengajukan diri untuk naik bersama-sama dengan lelaki itu menyeberangi air terjun yang berbahaya ini?” tanya panita lomba.
“karena dia adalah bapak saya!” jawab anak itu singkat.
———— — * * *———– ——— —
terdapat perbedaan yang signifikan antara percaya dan mempercayakan. sikap penonton dalam cerita diatas adalah lambang dari rasa “percaya” sedangkan keikut sertaan sang anakdalam pundak laki-laki tersebut adalah “mempercayakan”
terkadang manusia berada pada tingkatan percaya pada sang Pencipta. namun tidak semua yang mau mempercayakan hidupnya dalam iman kepadaNya. jadi kia hidup hanya sekedar percaya berarti menjunjukan penyerahan diri yang tidak lengkap terhadap apa yagn kita percaya. hidup tidak sekedar percaya tidak mentut komitmen penuh. sebagai contoh seorang pimpinan percaya bahwa armadanya penjualannya dapat mencapai target penjualannya sesuai dengan rapat perencanaan, namun tidak ada komitmen untuk bimbingan dan arahan pencapaian tersebut. dipihak lain “percaya” merupakan awal dari “mempercayakan” .
anak kecil di cerita diatas tidak mungkin dia mempercayakan perjalanan penyebrangan jika dia tidak dahulu percaya bahwa itu bapaknya, percaya bahwa bapaknya pasti mampu melakukan hal tersebut. hidup mempercayakan merupakan mempercayakan secara total kehidupan setelah kita mengetahui siapa yagn kita percayai. tapi dalah hal ini mempercayakan bukan berarti menyerah secara total dan pasrah tanpa ada penyertaan akal budi untuk melihat realitas yang ada.
disamping itu, hidup yang mempercayakan memiliki tuntutan untuk kontribusi terhadap yang dipercaya tersebut, begitu pula yang di serahi kepercayaan dia juga di tuntut untuk menjadi seorang pemegang amanah yang dapat di percaya.
———— ——— ——— ——— ——— ——— –
tulisan dan cerita diatas aku kutip dari buku “HALF FULL-HALF EMPTY” pengarangnya “Parlindungan Marpaung” terbitan “MQS publising” ISBN-nya “979-3503-71- 8”

Mohon Komentarnya...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s