Refleksi Diri


Sudah tidak menjadi berita yang asing bagi kita sebuah perumpamaan kehidupan ibarat sebuah roda, kadang berada di atas, kadang dibawah. ketika kita berada diatas tak mungkin lagi dihindari kebahagiaan yang menyelimuti kita, senyum yang mengembang, perasaan senang menyelimuti hari-hari kita, ini yang biasanya kita berada pada titik dimana kita sedang berada pada titik paling tinggi, atau yang sering disebut dengan titik Zenith. Kebalikan dari itu, titik rendah dalam hidup pasti tak dapat di pungkiri, semua orang pasti pernah merasakan. Bahkan kekasih Allah swt, Rosulullah Muhammad saw-pun pernah mengalami pada titik terendah ini, apalagi kita hanya seorang manusia biasa yang tentu saja jauh dari kata sempurna, titik terendah ini adalah suatu hal yang sudah pasti akan dilalui oleh setiap manusia. Titik terendah manusia atau yang disebut dengan titik Nadhir, manusia diselimuti kegundahan, keputusasaan, kecemasan, kegagalan dan perasaan negatif lainnya, tak pelak terkadang manusia rela menghalalkan segala cara untuk menghindari keadaan ini, bahkan MasyaAllah sampai menjual agama hanya karena sebuah nama uang, kedudukan, kesenangan. Astaghfirullahaladzim. Ya Allah semoga engkau selalu memberikan kesabaran, ketakwaan, dan keteguhan iman pada kami, agar selalu senantiasa terhindar dari segala kemusyrikan.

Kita tahu bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan kepada manusia melebihi batas kemampuan manusia. kunci utama adalah kesabaran dalam menghadapi masalah, mencoba untuk berpikir positif bahwasanya cobaan adalah sebuah proses pendewasaan pada diri kita. Selalu berfikir bahwa titik Zenith maupun titik Nadhir adalah suatu hal yang pasti akan saling silih berganti mendatangi kita. Allah sangat adil, tujuan dari pemberian kedua titik tersebut adalah agar kita bisa merasakan bagaimana saat-saat kita pada titik tertinggi maupun saat-saat kita berada pada titik terendah. kedua titik tersebut saling berhubungan erat, sehingga pada saat kita berada pada titik Zenith kita tidak boleh terlalu terlena,bahwasanya titik Nadhir pasti telah menunggu kita, sehingga kita bisa selalu bersyukur. Sebaliknya ketika kita berada pada titik Nadhir, kita tidak boleh terlalu merenungkan nasib kita terlalu berlebihan, menangis berlebihan, bahkan sampai menjual agama demi kesenangan duniawi yang bersifat sementara ini, yakin bahwa kedua titik itu pasti akan kita jalani.

Semoga Allah memerikan apa yang terbaik bagi kita menurut-Nya. Amin.

Mohon Komentarnya...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s