Suatu Hari di Kampusku (2)


Ngeeekkk… pintu itu terbuka, daun pintu berwarna ungu kusam dengan ganggang berwarna kuning keemasan agaknya masih baru, masih ada sedikit bercak sayatan pahatan disekitarnya, hmmmm mungkin baru saja diganti, pikirku… sedikit kutersentak, sejenak pandangan beralih pada kaca jendela yang pecah, menyisakan sebilah pecahan yang masih teronggok padanya. Kualihkan pandangku 2 meteran kekiri, tepat diatas pintu yang terbuka. “Ruang 3” tertulis pada papan ukuran 50 kali 20 centi meteran, yah salah satu ruang loket pendaftaran siswa baru di kampus ini.

Aku duduk pada baris ke ketiga dari kanan, nomor meja empat, sendirian, ku genggam stofmap warna merah jambu, berisi Surat Keterangan Kelulusan serta Daftar Nilai Ebtanas Murni dari kampusku yang lama. Kualihkan pandangku ke kanan, kiri, clingak-clinguk yang ada adalah para calon siswa baru tengah sibuk menuliskan sesuatu ke isi stofmap warna hijau. “Mau daftar mas?”. “Iya bu”, jawabku pelan agak grogi. “Silahkan ambil nomor pendaftaran di bagian administrasi depan”, lanjutnya. “Oh iya bu…”, jawabku. Seketika aku terbangun dari dudukku, meninggalkan keasingan ruangan itu, kembali berbaur dengan berbagai macam rupa manusia, pada bagian adminsitrasi pendaftaran, mengantri demi mendapatkan berkas dan nomor pendaftaran.

“Surat keterangan kesehatannya mana mas?” Tanya seorang Bapak setetangah baya duduk dibelakang meja dengan tumpukan stofmap, tepat didepanku. “Mmmmm belum ada Pak”. “Kalo gitu silahkan cek kesehatan di UKS belakang mushola”. Aku mundur dengan sendirinya, hufh ribetnya negeri ini… ketusku menggerutu. Kubayangkan betapa repotnya negeri ini dengan tetek bengek persyaratan untuk mendapatkan sesuatu, sesuatu yang harus dilakukan dengan penuh perjuangan, tak hentinya gembar-gembor rakyat menyuarakan rasa kemanusiaan dan keadilan pada orang-orang yang diatas, seolah-olah kedudukan hanya sebuah bulan-bulanan bagi para rakyatnya. Pantas saja orang-orang sekarang lebih senang melakukan demonstrasi daripada memikirkan apa yang harus dikerjakannya, mungkin juga hal itu merupakan sebuah strategi untuk memikirkan apa yang harus dikerjakannya, sepertinya aku dibuat bingung sendiri, hehe….

Halaman kira-kira seluas 15 kali 5 meteran tepat didepan dimana para calon siswa baru mengantri untuk mendapatkan surat rekomendasi bahwa mereka benar-benar dalam keadaan sehat. Model seperti apalagi ini, negeri ini ternyata mulai dihinggapi krisis kepercayaan, keadaan semakin membuat kebenaran jadi keblinger, orang yang tidak sehat pun ternyata divonis sehat, lalu apa dasar pemberian surat keterangan tersebut, berdasarkan uang sebesar Rp. 100,- kah? Mungkin tak sepenuhnya kesalahan mereka, prosedur memang mengharuskan sesuatu berjalan berdasarkan aturan yang sudah dibuat dan sudah disaklek-kan. Jahatnya negeri ini karena dipimpin oleh orang-orang yang keblinger, rasa sok tahu ku kembali muncul. Jadi ingat penggalan kata-kata yang dipesankan oleh Rasul SAW “Jika permasalahan kemanusian diserahkan kepada masyarakat awwam maka sama saja menyerahkan sesuatu masalah kepada bukan ahlinya, maka tunggulah masa kehancurannya” Naudzubillah mindzalik.

Ku tengok jam tanganku, dari jarum jam yang melintang aku tau bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 09.21 tepat, kalaupun lebih paling dalam hitungan detik saja. Sudah lelah sepagi ini pikiranku dipenuhi bermacam pikiran onggokan sampah, mulai dari sampah masyarakat, alias preman bus kota tadi pagi, hehe…  sampah apalagi ya? Oh ya sampah yang berserakan dihalaman depan itu, kelakarku sendiri.

“Farid Fadlinansyah…!!!”. Seketika kuterbangun dari lamunanku, tanpa perintah aku langsung berdiri setengah berlari menghampiri bagian administrasi, ironi, sungguh terlalu, apa sudah tidak ada lagi perumpamaan pembeli adalah raja? “Tuliskan nama lengkap dan jumlah NEM di bagian depan stofmap dan silahkan masuk ke loket pendaftaran satu sampai enam,” lanjutnya. “Iya Pak, terima kasih”, sahutku. Sejenak menoleh kanan-kiriku, semakin ramai saja, pikirku.

Pikirku, tidak ada salahnya jika aku masuk ke ruangan selain Ruang 3 tadi, aku terdiam, berdiri, dan mulai dihinggapi pikiran halusinasi yang mana keberadaan logika tak dibutuhkan lagi pada bagian ini. Iya semacam perhitungan sebuah keberuntungan, tak ubahnya ketika dulu aku mulai menunjukkan bakatku dalam mengerjakan soal ujian berupa pilihan ganda, tak asing lagi, menghitung kancing baju, sudah lagu lama mungkin, dan sudah terkesan wagu tur saru, namun mungkin bisa menjadi sebuah trik sendiri untuk mengalihkan perhatian penjaga ujian, itu rahasia perusahaan, hehe. Jika dikaitkan dengan hari lahirku, 14+9+1986, maka hasilnya adalah 2009, kalau angka-angka itu ditambahkan maka 2+0+0+9 hasilnya adalah 11, kemudian angka tadi ditambahkan lagi maka 1+1 menghasilkan 2, dan angka 2 sudah merupakan angka tunggal, tidak bisa dioperasikan lagi karena variabel yang mungkin terjadi adalah 0, tepat mungkin angka keberuntunganku hari ini adalah 2.

Ruang 2. Tak beda jauh dengan Ruang 3, seting hampir sama persis, yang menjadi pembeda hanya tempelan struktur organisasi kelas, jadwal piket dan beberapa hiasan lain yang membuat dinding ruangan menjadi serasa norak bagiku (gayane). “Pendaftaran dua belas ribu rupiah mas, silahkan foto nya ditempel dibagian atas kanan formulir pendaftaran.”. “Iya Bu…”, balasku.

Mohon Komentarnya...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s