Suatu Hari di Kampusku (3)


Masih gelap, aku malas bangun sepagi ini, kebiasaan bangun siang semenjak tidak adanya kegiatan lagi di kampus lama membuat aku semakin nyaman dengan kemalasanku, berbalut selimut apek, entah tak dapat kuingat kapan terakhir kali aku sempat mencucinya. Sepagi ini angin luar masih agak kencang, sesekali mengajakku bermain petak umpet, kala ujung sepoi nya masuk ke kamarku berukuran tak lebih 4 kali 3 meter melalui celah diantara sekat papan kayu yang menjadi dinding pembatas dalam dan luar rumahku, seperti tak menyerah menemukanku dibalik selimut. “Farid !! sudah lewat adzan subuh, katanya suruh bangunin, ayo cepat ambil wudhu dulu.” Suara dari balik dinding yang tak asing lagi ditelingaku. “Iya nek bentar ah.” Hari ini nenek memang aku tugasi membangunkanku pagi-pagi, maklum hari pertama masuk kampus baru, meskipun sebenarnya malam itu aku tak benar-benar bisa memejamkan mata, pikiranku masih ngalor-ngidul terbayang bermacam-macam hal yang akan terjadi di hari pertama masuk kampus baruku. Seketika aku ingat sesuatu, tanpa dikomando meski masih terasa berat dengan sigap ku toleh pada meja kecil berukuran sekitar 1 meter kali 60-an centimeter, meja belajar yang selama ini menemaniku menggoreskan kenangan-demi kenangan pada setiap baris dan setiap bait kata yang aku tuliskan pada buku-buku yang teronggok diatasnya.

Aku terbangun, menyalakan kembali lampu teplok, satu-satunya media penerang ruang kamarku ketika gelap menghinggapi, “kurang apalagi ya”, gumamku dalam hati, seketika jadi terasa ngeri sendiri membayangkan apa yang akan terjadi ketika aku lihat-lihat perbekalan yang harus dibawa pada hari ini, bermacam persyaratan bak persembahan sesaji yang harus dipersiapkan oleh pasien kepada seorang dukun agar dipenuhi segala permintaanya. MOS, menurut legenda yang beredar dan hikayat turun temurun yang sudah tidak asing lagi, memang sebuah momok yang sangat angker dan menakutkan bagi para calon siswa baru pada berbagai jenjang, ada pula yang menyebutkan sebagai sebuah ajang balas dendam para senior kepada calon juniornya, seketika aku mulai merasa membenci hari ini, membenci sikap kakak senior yang bersikap bengis saat pra-MOS kemarin sore, dan hari ini pasti akan terulang lagi.

Setengah jam kemudian aku berangkat membawa tetek bengek perbekalan, melintasi jalan raya rusak masih sepi, menempuh perjalanan dengan jalan kaki sepanjang 2,5 kilometer, merapat ke perempatan dimana pada tempat itu berkumpul anak-anak dari penjuru pelosok, saling berdendang, sejenak melepas kelelahan dengan bersenda gurau, berpadu pada satu tujuan. Kubayangkan jauh kedepan, paling tidak tiga tahun kedepan akan terjadi sebuah perjalanan panjang yang mungkin sangat melelahkan, bukan hanya soal fisik, tapi juga materi yang akan menunda beberapa kebutuhan yang sangat perlu dibutuhkan. Aku menghela nafas panjang, bagaimanapun ini adalah sebuah kenyataan yang harus dihadapi. “Kalo tidak sekolah mau ngapain kamu? Kerja juga belum payu, bapak akan berusaha paling tidak sampai lulus menyekolahkan kamu.” Teringat kata-kata Bapakku beberapa minggu yang lalu ketika aku selesai Ebtanas. “Aku manut Bapakmu saja, bagaimanapun dia yang memutuskan, kalau memang dia bilang gitu ya Alhamdulillah to, selama kakek-nenekmu ini masih bisa membantu, kenapa tida?” tambah nenekku. Aku teringat ketika waktu itu aku melihat tetes-tetes peluh dari muka kakekku, setiap tetes yang jatuh ke bumi bagai seribu lecutan cambuk di kalbuku, hanya demi tetap memberiku sebuah tatapan masa depan yang entah dimana aku bisa melihat ujungnya.

Aku tersentak, sejurus kemudian sudah berada di dalam bus, tak ku sangka pagi itu bis meluncur membawa orang-orang yang berseragam sekolah penuh sesak, menjejal tertata, sebuah pemandangan yang  ternyata harus aku hadapi setiap pagi.

to be continued . . .

Mohon Komentarnya...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s