Suatu Hari di Kampusku (4)


 

Ku layangkan pandangku melalui kaca jendela, dari tempat ku bersandar (padi banget), suasana luar kelas yang sepi dibeberapa blok, jam segini memang sedang sibuk-sibuknya kegiatan pembelajaran. Aku kembali ke posisi awal, bersadar pada sandaran kursi kayu yang sudah tua, meski belum reot seperti kebanyakan kursi yang ada disini, pemandangan yang sedikit menggelitik benakku, memberikan memori tentang ingatan-ingatan masa lalu ketika pada sekolah tingkat dasar, meja yang penuh coretan, beberapa baris kata dapat kueja dengan baik “ciri-ciri entrepreneur : komitmen terhadap tugas, mampu melihat peluang, bermain dengan resiko, orientasi ke masa depan,” beberapa yang dapat aku baca, mungkin contekan ujian, pikirku.

Suasana kelas masih gaduh, beberapa kejadian yang dapat kutangkap, Mislan (red), salah satu siwa kelas ternobatkan menjadi komandan, beberapa anak mulai saling mengenal satu sama lain, yang aku tahu disini aku sendiri, ingin berbagi canda dengan mereka, tapi masih canggung. Ruang kelas yang tidak terlalu nyaman, pada pojok depan sebelah kanan nada lobang seukuran dua meter kali 60-an centimeter, terdapat onggokan beberapa kertas tertumpuk hampir membusuk, tepat disebelah meja guru dengan jarak kurang dari dua meter, masih terlihat sangat tidak bagus untuk sebuah ruang kelas pada sekolah semaju ini, pikirku.

Serentak para siswa mengambil sikap duduk, agak terhening sebentar, kemudian kembali gaduh, tidak terlalu keras namun masih terdengar beberapa candaan beberapa siswa. “selamat pagi semuanya”, “selamat pagi !!” serentak terjawab. Aku buka buku yang sedari kemarin menjadi salah satu buku faforitku, hari ini jadwal pak Dodi (red), mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, bacaku teliti. Sekilas dapat aku simpulkan sifat dari pak Dodi melalui perkenalan singkat, umur 42 tahun, mempunyai 3 orang anak yang juga masih sekolah, orangnya agak sedikit humoris, sedikit bicara namun singkat padat jelas, terselip pada tiap penjelasannya cerita tentang perjalanan hidupnya, bagaimana awal karir nya menjadi seorang guru di sekolah tingkat atas, memulai karir menjadi seorang guru bantu dengan gaji tidak lebih dari lima puluh ribu perbulan pada saat itu. Sistem di negeri ini memang seringkali terdengar keblinger, sok tahu ku kambuh lagi. Sekarang Pak Dodi sudah menjadi pegawai negeri sipil dengan pangkat golongan IV/A.

Aku masih membayangkan selama kurang lebih tiga tahun kedepan akan terjadi ukiran kisah yang tidak dapat terulang, masa yang ternyata lebih indah dari apapun, ketika merasa paling diantara yang lain, ego yang masih belum bisa terkendali, bagaimanapun itu sudah menjadi kemutlakan dan tak henti-hentinya senyum mengembang ketika mengingat kembali jengkal-demi jengkal ukiran kenangan yang tak akan pernah terlupakan.

Hari ini diawali dengan penuh kemalasan, hari baru yang serba asing, sebagai seorang yang cenderung introvert aku memang susah bergaul, butuh waktu berhari-hari sampai berminggu-minggu untuk bisa bergabung menjadi komunitas mereka, aku cenderung orang yang susah menerima perubahan, seringkali terlalu terlena dengan pewe-ku. Kenalanku pertama bernama Astar (red), sama-sama dari background ndeso, potongan yang tidak jauh berbeda, dari badge yang masih tertempel di seragam lamanya menandakan dari kampus mana dia berasal, hmmmm cukup ndeso juga, batinku, rambut ikal yang disisir ke samping kiri, terlihat mengkilat mungkin ada penambahan minyak rambut, terlihat kaku dan sedikit berdebu, potongan yang khas jauh dari pelosok, hehe, dia teman satu meja denganku, orangnya terlihat unik, namun ada kesan pendiam seperti aku.

Hari ini pertama kali masuk pelajaran penuh, jam 15.15 tepat baru meninggalkan kampus, sudah terlalu sore untuk ukuran pemula seperti aku, pemula dari kalangan ndeso, apalagi dengan jarak yang cukup jauh dari rumahku, tak terbayangkan bahwa selam tiga tahun akan terjadi sebuah sejarah yang cukup mengesankan, kalau dikalkulasi bolehlah tiga tahun itu hanya sekitar 10-15% aku menikmati matahari kampungku, tak dapat disangka ternyata ini adalah sebuah memori yang tak pernah akan hilang dalam benakku, aku betah disini karena ada sosok Michael Branch.

End.

2 Responses

  1. jangan pernah pacaran gag baik tau

  2. mbak hidayah = itu potongan cerita ketika masih berbaju sekolah mbak, sekedar berbagi, mohon jangan terlalu di dramatisir. terima kasih coment nya.

Mohon Komentarnya...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s